kuliner solo tuan rumah di kota bengawan

Kuliner Solo: Tuan Rumah di Kota Bengawan

Kuliner SoloMakanan Khas Solo itu ibarat buku tanpa bab akhir–Begitu banyak varian menu—dari kudapan hingga makanan utama—semuanya menyajikan kelezatan citarasa dalam bungkus kesederhanaan, lengkap dengan cerita dan fakta menarik seputar itu.

Seiring waktu, makanan khas dari daerah lain mencoba memberi aneka pilihan bagi warga Bengawan. Begitu pula dengan western food yang menonjolkan fast food, berlomba eksis dan berusaha memenangkan selekta rasa orang Solo. Berhasilkah?

Faktanya, dalam penelusuran penulis, langsung dari Kota Batik, Makanan Khas Solo, masih sangat dominan, baik dari segi kuantitas maupun penikmatnya. Sedangkan makanan khas daerah lain dan western food belum mampu menandingi kuliner Solo! Rumah Makan Padang misalnya, yang begitu populer dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia, tak lebih dari 20 jumlahnya di kota Solo yang luasnya 46,01 km². Tiga di antaranya berada di Jalan Slamet Riyadi, yakni: RM Padang Sederhana, Restu Bundo dan Denai.

Kondisi hampir serupa pada Makanan Khas Makassar yang menasional: Coto Makassar. Warung makan Coto Makassar di Solo lebih sedikit jumlahnya daripada Rumah Makan Padang. Di antaranya yang eksis adalah RM Coto Makassar Ewako di Manahan.

Selain makanan khas kedua daerah tersebut, Makanan Khas Palembang di Solo juga eksis, yakni Empek-empek Palembang; Pempek Ny Kamto di Jalan Yosodipuro misalnya, adalah salah satu yang eksis. Namun, kedai/warung yang menjual Makanan Khas Palembang di Solo masih kalah jumlahnya dibandingkan Rumah Makan Padang dan Warung Makan Coto Makassar.

Selanjutnya, sejumlah makanan khas daerah lain, seperti: Bika Ambon (kudapan khas Medan), dan atau Mie Aceh (makanan khas Aceh), keberadaannya bisa dihitung dengan jari.

Eksistensi semua makanan khas daerah lain yang disebutkan di atas masih mending jika dibandingkan dengan Makanan Khas Manado. Sejauh yang ditelusuri penulis di seluruh kota Solo, hanya satu Rumah Makan Manado yang bisa ditemukan. Sebelumnya, dari sejumlah warga yang sempat ditanyai, terkuak info, tadinya Rumah Makan Manado di Solo ada 2 tempat–yang satu tempat sudah tidak berjualan lagi, dan membuka peruntungannya di Jogyakarta. Jadi, tinggal satu lokasi Rumah Makan Manado di Solo, yakni Rumah Makan Manado “Pingkan”, di Jalan Sutan Syahrir 22, milik Daniel Worek. Sudah 7 tahun rumah makan ini bertahan di Solo. Dan pada Februari mendatang akan pindah ke tempat nongkrong baru di kota Solo, yakni Wedangan Juragan Pasar Kembang (Jalan Honggowongso).

daniel worek, pemilik rumah makan manado: pingkan, di jl sutan syahrir 22 - solo

daniel worek, pemilik rumah makan manado: pingkan, di jl sutan syahrir 22 – solo

Lalu, selain itu masih adakah lagi makanan khas daerah lain yang belum tersebutkan? Sejauh mobil saya dipacu dan seluas mata saya mencari, tidak terlihat lagi…

Jumlah rumah makan yang menjual makanan khas daerah lain yang tergolong minim, bukanlah ukuran pasti mereka kalah bersaing, lalu bahkan tutup atau mungkin pula bangkrut, hingga pindah daerah. Terhadap hal ini, membutuhkan telaah ilmiah-komprehensif lebih lanjut. Namun, yang hendak saya garis bawahi, sedikit ataupun banyaknya jumlah rumah makan khas daerah lain dan western food di Solo sampai dengan saat ini, keberadaannya belum mampu menggeser dominasi makanan Solo.

nasi liwet yu sani solo

nasi liwet yu sani salah satu yang terbaik di solo

Wong Solo bukannya enggan mencicipi makanan daerah lain. Buktinya, semua rumah makan daerah lain yang tersebutkan di atas, juga bisa dibilang ramai pengunjung–mereka, asli orang Solo! Dengan kata lain, penikmat kuliner Padang dan atau Coto Makassar, justeru banyak berasal dari warga Solo, bukan dari warga daerah bersangkutan. Hanya saja, jumlah ‘banyak’ itu masih kalah jauh dengan penikmat kuliner Solo. Itu artinya, kuliner Solo masih menjadi tuan rumah di kotanya sendiri: Kota Bengawan!

Mempertegas hal di atas, dapat terlihat jelas pada fenomena “wedangan modern” yang kini marak di Solo. Wedangan yang menjual menu serupa angkringan (Jogya), selalu padat dikunjungi. Bahkan antrian panjang terbentuk setiap menit, dimulai begitu resto wedangan modern itu buka di petang hari hingga tutup di larut malam.

wedangan mantap solo yang selalu ramai pengunjung

wedangan mantap solo yang selalu ramai pengunjung

Wedangan yang naik kelas itu, hanyalah satu dari sekian banyak contoh, betapa sekali lagi, kuliner Solo, masih yang utama sebagai ‘pengisi’ kehidupan warga Surakarta.

Bukan hanya resto modern yang ramai pengunjung, warung-warung kuliner Solo terkenal yang berkonsep sangat sederhana dan merakyat pun tak kesepian pengunjung. Nasi Liwet Yu Sani, Timlo Sastro Pasar Gede, Leker Gajahan, Serabi Notosuman, Shi-Jack, Es Masuk Gajahan, Omah Selat, dan Soto Gading misalnya, adalah sebagian kecil dari warung makan Kuliner Solo yang luar biasa jumlah pengunjungnya setiap hari; Tua-muda, dan dari berbagai strata, sabar antri mendapatkan tempat untuk duduk makan. Pengunjung semakin membludak manakala akhir pekan tiba, saat masa liburan, dan pada hari-hari raya. Saking membludaknya, menjadi pemandangan biasa jika jalanan di sekitar warung-warung makan tersebut, macet.

rumah makan es masuk gajahan selalu ramai

rumah makan es masuk gajahan selalu ramai

Kuliner Solo, seperti: Wedangan, Nasi Liwet, Nasi Timlo, Cabuk Rambak, Tengkleng, Sate Kere, Selat Segar, Tahu Kupat, Wedang Dongo, Bakmi Toprak Solo, Intip, Rambak Petis, Serabi Solo, Sambel Tumpang, Sate Buntel, Dawet Ayu, Gempol Pleret, dan lain-lain itu tampaknya akan terus lestari menjadi pilihan utama di lidah warga Solo dalam waktu panjang ke depan—pertanda, betapa kuliner Solo bukan lagi sekadar makanan pengisi perut, tetapi ia telah membudaya dalam kehidupan warga, yang sulit tergerus dengan budaya apapun dan dari manapun.

Kuliner Solo yang kaya varian, kaya rasa, kaya kesederhanaan, dan kaya cerita itu, pantas disebut sebagai The Spirit of Indonesian Food, yang akan terus berkisah tanpa akhir.

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *